Sabtu, 28 April 2012

Sebuah Tulisan Evolusi dan Filogeni: Mekanisme Evolusi Pada Tingkat Molekular

Genetic Code table ~
Chef Victor ingin kembali produktif dengan tulisan-tulisannya yang sangat mengilhami para pembacanya untuk menjadi.....sedikit gila. Yaa tulisan ini saia buat untuk memenuhi request dari para pembaca setia yang terus-terusan saia tag FB-nya. Masih dengan tema evolusi dan filogeni molekular, saia berencana ingin mengajak teman-teman untuk lebih dicerahkan terhadap perkara tersebut.

*...kentut...* ~

Uups....nampaknya pantat saia agak kurang setuju dengan kata-kata yang baru saja saia tuliskan diatas. Yasuda, pokoknya apapun tujuannya yang penting saia nulis dan ente baca...hahaha. Oke kali ini memasuki bab selanjutnya saia akan bercerita mengenai bagaimana evolusi bekerja untuk mengukir filogeni pada mahluk hidup. Selamat menikmati.

Dari buku teks evolusi kita diberitahu bahwa populasi mahluk hidup itu (ingat lho, POPULASI) berubah seiring dengan waktu menyesuaikan diri melalui proses adaptasi. Adaptasi tersebut dapat terjadi karena separuh usaha dan separuh kebetulan. Lha kok bisa kebetulan? Nah itu karena mutasi bersifat acak. Bagian populasi yang kebetulan mendapatkan mutasi yang sesuai dengan seleksi alam yang ada, maka kelompok tersebut dapat bertahan hidup, beranak-pinak, dan happily ever after deh. Akumulasi mutasi seiring dengan berjalannya waktu ini kemudian pada titik tertentu akan diikuti denganproses penghasilan spesies baru atau yang disebut sebagai spesiasi. Nah dari titik inilah divergensi muncul, seperti yang kita lihat sebagai titik percabangan dalam pohon filogeni kehidupan.

Oke, sekian mengenai konsepnya dan sekarang mari kita beranjak menuju tingkatan molekular. Mutasi yang berarti perubahan bekerja pada tingkatan molekular, atau tepatnya pada tingkat DNA. Nah karena semua mahluk hidup memiliki DNA sebagai cetak biru kehidupannya, maka perubahan pada DNA ini tentunya akan diwariskan ke keturunannya. Nah supaya mutasi tersebut terlihat hingga pada tingkatan struktural, tentunya dia harus lolos dulu dari apa yang disebut sebagai seleksi alam. Yup, ibarat "production house" dan "quality control", begitulah hubungan antara mutasi yang muncul dengan seleksi alam. Tidak semua mutasi dapat lolos dari seleksi alam, dan pada kenyataannya memang hanya sedikit bentuk mutasi yang bisa lolos. Hmm..apakah 'production house' yang tidak efektif atau 'quality control' yang terlalu ketat? Silahkan dipikirkan sendiri.

Namun demikian, seleksi alam tidak menggunakan DNA sebagai target seleksi. Target seleksi adalah produk dari DNA, yaitu protein. Nah jadinya dalam cerita ini si 'production house' bisa sedikit terselamatkan karena varian-varian mutan (produk mutasi) yang dibuat tidak seluruhnya akan dieliminasi oleh seleksi alam. Kenapa? Jawabannya terletak pada kode genetik, yakni 64 kombinasi triplet nukleotida atau kodon yang mengkode 20 jenis asam amino penyusun protein. Nah itu berarti ada beberapa triplet/kodon berbeda namun mengkode asam amino yang sama. Seandainya triplet CGA yang mengkode asam amino arginin mengalami mutasi transisi pada nukleotida ketiga sehingga menjadi CGG, asam amino yang dikode tetaplah arginin. Perhitungan menunjukan bahwa mutasi yang terjadi pada huruf pertama dari triplet memiliki 96% kemungkinan perubahan asam amino, huruf kedua 100%, dan huruf ketiga hanya 30%. Dengan demikian, khususnya pada mutasi hiruf ketiga inilah DNA menyimpan berbagai variasi yang luput dari pengawasan si 'quality control' alias seleksi alam. Jadi tidak aneh bila dalam suatu populasi yang spesiesnya sama (atau idealnya urutan asam amino dalam proteinnya sama) ternyata mengandung varian pada DNA-nya.

Akumulasi mutasi yang meliputi pertukaran (substitusi), penyisipan (insersi), dan penghilangan (delesi) nukleotida pada DNA pada tingkat tertentu (evolusi gen) baru akan menyebabkan perubahan cukup signifikan yang kita sebut sebagai evolusi organisme. Nah dalam filogeni, keduanya perlu didefinisikan dengan jelas. Hal ini disebabkan filogeni molekular menggunakan urutan DNA yang sejatinya merupakan evolusi pada tingkat gen untuk menggambarkan evolusi pada tingkat organisme. Artinya kita mencoba menggambarkan pohon organisme (organismal tree) yang didasarkan pada pohon gen (gene tree).

Selanjutnya pertanyaan baru pun muncul, mungkinkan hal seperti itu direkonstruksi? Saia bisa menjawab ya dan juga tidak. Ya karena evolusi organisme memang bermula dari evolusi gen, namun tidak karena evolusi gen belum tentu memicu evolusi organisme. Banyak usaha yang dikerahkan agar kita bisa menggambarkan pohon organisme berdasarkan pohon gen. kenapa sih mau repot-repot begitu? toh keduanya juga sama-sama pohon. Ya tapi saia ingin mengemukakan sebuah umpama bahwa saa ingin melihat evolusi gajah dan bukannya evolusi DNA gajah. Ya, target kita adalah spesies dan urutan DNA lebih berperan sebagai jejak target tersebut. Jadi jangan berpikir sebaliknya.

Lantas bagaimanakah usahanya? Tunggu tulisan berikutnya yax. Nanti jadi kepanjangan dan bikin ngantuk kalo dibeberkan semua disini.

Regards,
Victor Apriel

Sebuah Tulisan Evolusi dan Filogeni: Pengantar Menuju Filogeni Molekular

The first proposed nucleotide substitution model, Jukes-Cantor one-parameter model (JC69)
Hmm...lama tidak menulis karena menggalau ria, tapi sebenarnya ya juga bingung apa yang mau digalaukan. Yasudalar, yang penting sekarang Chef Victor kembali meramaikan notes lagi dengan tulisannya yang sedikit menggugah mimpi buruk. Oke, kali ini saia akan mencoba berbagi pikiran mengenai evolusi dan filogeni. Santai saja lar, karena saia tidak akan membahas pertanyaan klasik itu ­-- apakah manusia berasal dari kera? So, mari kita mulai....*tuing..tuing..tuing*

Kita mulai dengan sebuah definisi. Well evolusi merupakan proses perubahan -- ya seringkas dan sebatas itu saja pendefisiannya. Kelanjutan dari definisi ini kemudian berkembang lagi menjadi tiga pertanyaan berikutnya, yakni: (1) apa yang berubah, (2) bagaimana perubahan terjadi, dan (3) mengapa perlu berubah? Evolusi itu sebenarnya mencakup semua hal yang ada di dunia ini, karena jelas apapun pasti berubah. Namun disini saia menekankan pada evolusi organisme, ya mahluk hidup. Perubahan pada mahluk hidup pun bermacam-macam, dimulai dari yang paling mendasar yakni susunan struktur molekul yang terdapat pada DNA hingga pada struktur, fungsi, dan prilaku dari mahluk hidup tersebut. Kemudian bagaimana perubahan itu berlangsung bergantung pada dua faktor, yakni faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal adalah mutasi dan faktor eksternal meliputi seleksi alam, ukuran populasi, serta interaksi intra- maupun antar populasi. Selanjutnya, mengapa perlu berevolusi? jawabannya sesederhana menjawab pertanyaan "mengapa kita perlu makan?". Ya itu, untuk hidup. Evolusi merupakan cara mahluk hidup untuk dapat terus hidup dan menghasilkan keturunan yang juga dapat bertahan hidup, seperti salah satu kalimat terkenalnya Mbah Darwin "survival of the fittest".

Nah setelah tulisan singkat mengenai evolusi ini, lantas apa hubungannya dengan filogeni? Izinkan saia mengutip kalimat dari buku Campbell's Biology mengenai kaitan keduanya. Apabila evolusi itu menggambarkan bagaimana prosesnya, maka filogeni itu menggambarkan pola perubahannya. Itu artinya filogeni sama seperti mempelajari sejarah biologi. Rangkaian cerita dalam filogeni dapat diperoleh dari penggalan sejarah yang ditinggalkan oleh mahluk hidup dari waktu ke waktu yang disebut dengan fosil. Dengan demikian kita bisa memperoleh rangkaian cerita evolusi suatu mahluk hidup dari waktu ke waktu hingga ke turunannya yang masih hidup sekarang ini. Penggalan-penggalan sejarah yang digabungkan satu sama lain ternyata memberikan pola seperti pohon. Hal itu berarti bahwa suatu mahluk hidup tidak berevolusi secara sendiri-sendiri melainkan pada suatu titik tertentu mereka berbagi leluhur dengan mahluk hidup lain, persis seperti kakak adik yang memiliki orang tua yang sama. Nah dari sanalah gambaran filogeni yang seperti pohon itu mendapatkan namanya "Phylogenetic Tree of Life".

Hingga saat ini proses penjabaran evolusi dan prediksi filogeni suatu mahluk cukup dimungkinkan dengan keberadaan fosil. Kenapa fosil bisa bertahan melalui waktu yang begitu lama hingga jutaan tahun? yaa karena fosil itu barang keras, sehingga relatif awet ketika tertimbun dalam lapisan bumi. Tapi lantas bagaimana menggambarkan filogeni dari suatu mahluk hidup yang tidak ada fosilnya? Gak usa jauh-jauh deh, sekarang bagaimana membuat filogeni bakteri dari awal kehidupan sampai sekarang?

Dengan perkembangan biologi molekular dan bioinformatika sekarang ini, hal itu menjadi mungkin. Hal ini disebabkan oleh penemuan bahwa rekam jejak evolusi mahluk hidup tersimpan dalam DNA-nya. Pola DNA ini yang kemudian diwariskan secara turun-menurun hingga ke keturunannya yang sekarang ini kita jumpai, dan pastinya dalam keadaan hidup. Pembandingan urutan DNA antar mahluk hidup dengan berbagai algoritme statistika memungkinkan kita untuk mereka-reka kembali bagaimana pola evolusi mahluk tersebut. Tahapan singkat mengenai bagaimana merekonstruksi pohon filogeni berdasarkan urutan DNA akan saia coba jabarkan secara singkat. Tahapan tersebut meliputi (1) penjejeran urutan DNA (alignment), (2) rekonstruksi pohon filogeni, (3) interpretasi dan analisis pohon yang dihasilkan, dan (4) penarikan simpulan mengenai filogeni tersebut.

Proses alignment bertujuan untuk mencari kesamaan daerah antar urutan DNA mahluk hidup yang dibandingkan. Kesamaan daerah ini kemudian diasumsikan sebagai 'homolog', yakni daerah yang diyakini merupakan warisan dari leluruh bersama mereka. Kemudian, dari hasil alignment tersebut dibuat menjadi pohon filogeni dengan konsep, asumsi, dan perhitungan tertentu yang tentu saja....sangat statistik!! Saat ini ada berbagai macam program rekonstruksi pohon filogenetik seperti PHYLIP, MEGA, HyPhy, Tree Puzzle, IQPNNI, MrBayes, CLUSTAL, PAUP*, RDP, dll masing-masing dengan kelebihan dan kekurangannya sendiri. Oh satu hal yang perlu diingat -- sampai sekarang ini (27 Apr 2012) program-program tersebut masih gratis lohh!! Setelah pohon yang kita inginkan itu terjadi, tentu saja kita senang. Horeee!! pohonnya muncul!! Namun permasalahan klasik pun muncul, yakni pesan moral apa yang terkandung dibalik gambar pohon tersebut? Nah disini kemampuan kita dalam menganalisis kaitan antara urutan DNA, dasar algoritme program, dan latar belakang mengenai mahluk hidup yang dipakai dalam pembuatan pohon pun diuji. Membuat pohon itu satu hal, tetapi menjabarkan pohon itu hal yang lain lagi.

Pada akhirnya setelah menganalisis sana-sini, sampai juga kita pada tahap terakhir yakni penarika simpulan. Pada tahap ini ada satu hal yang perlu diingat dengan baik. Semua filogeni entah itu berasal dari data molekular maupun data fosil adalah bersifat hipotetikal alias prediksi. Hal itu disebabkan karena kita tidak mungkin mengulang kembali ke masa lalu dan sifat dari penggambaran filogeni yang kita lakukan adalah berbasis pada sampling. Kita merekonstruksi sesosok mahluk berdasarkan struktur tulang dan keadaan lingkungan pada saat itu, namun kita tidak pernah tahu bagaimana sebenarnya keseluruhan mahluk tersebut. Penggambarannya hanyalah bersifat prediktif berdasarkan sampel fosil yang ada. Hal yang sama juga berlaku pada filogeni molekular (DNA, RNA, atau protein), yang bisa dengan kasar saia menyebut kita memprediksi suatu mahluk berdasarkan materi genetiknya.

Yahh kurang lebih sampai disini dulu materinya. Semoga teman-teman pembaca  menjadi lebih mengerti bahwa evolusi dan filogeni itu tidak sekedar (atau malah bukan sama sekali) kera --> manusia....heheheh

Regards,
Victor Apriel

Minggu, 06 November 2011

Ekologi Mikrobia Laut, Bab 3 - Prokariot Laut Fotoheterotrofik

Setelah membahas mengenai keanekaragaman dan distribusi prokariot di laut, dalam bab ini saia akan coba fokus pada kemelimpahan dan kontribusi ekologis pada prokariot yang hidup di laut. Di dalam ekologi terdapat suatu persamaan bahwa nilai kontribusi setara dengan kemelimpahan dan distribusinya. Jadi, apapun yang banyak dan tersebar luas dalam perairan laut pasti memiliki kontribusi yang lebih nyata terhadap ekosistem tersebut. Well, tentu saja tidak semua kelompok prokariot akan dibahas disini karena mereka itu terlalu beragam. Pada kesempatan ini saia hanya memfokuskan pada kelompok prokariot fotoheterotrofik, yang ternyata berdasarkan data penelitian terbaru memiliki kontribusi yang cukup nyata khususnya terhadap siklus biogeokimia di lautan lepas. Selamat membaca yak.

Fotoheterotrofik

Fotoheterotrofik merupakan salah satu bentuk nutrisi (mencari makan) mikrobia yang menggunakan sumber energi dari cahaya matahari, namun mengandalkan sumber karbon dari senyawa organik terlarut (dissolved organic matter) di lingkungan sekitarnya. Proses ini berbeda dengan foto2autotrofik yang lebih umum kita kenal, yakni menggunakan sinar matahari sebagai sumber energi dan menggunakan sumber karbon dari senyawa anorganik (karbon dioksida). Mikrobia fotoheterotrofik seperti layaknya mikrobia heterotrofik murni sangat berkaitan erat dengan mikrobia fotoautotrofik dalam hal perolehan senyawa organik.

Kelompok Mikrobia Fotoheterotrofik dan Kontribusinya Terhadap Ekosistem

Well, siapa sajakah mereka? Data penelitian terbaru membagi mikrobia fotoheterotrofik ini menjadi 3 kelompok, yakni Cyanobacteria, bakteri aerobik anooksigenik fototrofik (AAP), dan bakteri proteorhodopsin (PR). Selanjutnya, mari kita bahas satu per satu.

1. Cyanobacteria

Semua yang mengambil mata kuliah mikrobiologi di manapun di dunia pastinya mengenal kelompok satu ini. Cyanobacteria merupakan satu-satunya kelompok bakteri yang secara evolusioner mengembangkan sistem fotosintetik oksigenik dan juga satu-satunya kelompok yang bertanggung jawab dalam mengisi atmosfer bumi ini dengan oksigen. Berbagai ilmu yang membahas Cyanobacteria mengenalnya sebagai kelompok yang bersifat fotoautotrofik, yakni menggunakan sinar matahari sebagai sumber energi dan juga dapat mensintesis senyawa karbon organik dari bahan dasar karbon dioksida (CO2). Dalam ekosistem laut cyanobacteria bertindak sebagai produsen, yakni menyediakan senyawa organik hasil fotosintesis kepada mikrobia atau bahkan tingkat trofik yang lebih tinggi. Synechococcus dan Prochlorococcus, dua genera cyanobacteria yang dominan pada ekosistem laut lepas ternyata juga memiliki kecenderungan untuk bersifat fotoheterotrof fakultatif, yakni dapat menggunakan senyawa karbon organik. Penelitian terkini menunjukan bahwa sel dari kedua genera tersebut mampu mengasimilasi nukleosida, asam amino, dan juga karbohidrat ketika dikultur dalam keadaan dengan cahaya. Berdasarkan kompetisinya, ternyata sel Prochlorococcus lebih dapat berkompetisi dalam asimilasi asam amino dibandingkan dengan sel Synechococcus, bahkan dapat dikatakan kompetisinya setara dengan bakteri heterotrofik pada umumnya.

Lalu bagaimana dampaknya terhadap ekosistem sekitar? Adanya sifat fotoheterotrofi pada cyanobacteria sepertinya terkait dengan durasi paparan sinar matahari pada ekosistem laut habitatnya. Dengan demikian, sifat fotoheterotrofi ini turut berkontribuasi pada distribusi kelompok bakteri ini baik secara spasial maupun secara vertikal dalam kolom air. Secara spasial, terdapat zona permukaan laut yang menerima paparan sinar matahari untuk durasi yang singkat. Hal ini terntunya berdampak pada kemampuan fotosintesis cyanobacteria yang sangat bergantung pada cahaya matahari. Adanya kemampuan fotoheterotrofi ini membantu cyanobacteria untuk dapat melakukan metabolisme dan juga bereproduksi meski dalam keadaan tanpa cahaya seperti halnya di perairan kutub. Kedua, yakni secara vertikal, kemampuan fotoheterotrofi memungkinkan distribusi cyanobacteria untuk mencapai zona perairan yang gelap tanpa cahaya.

2. Bakteri Aerobik Anoksigeni Fototrofik (AAP)

Sesuai dengan namanya, kelompok ini beranggotakan bakteri yang mampu melakukan fotosintesis namun tidak dapat menghasilkan oksigen sebagai produk sampingannya. Secara filogenetik, kelompok ini merupakan bagian dari kelompok yang lebih besar, yakni Purple Non-Sulfur Bacteria (PNSB). Kelompok bakteri AAP ini lebih menonjol dalam hal kemelimpahan serta distribusi disebabkan oleh sifatnya yang aerobik, yakni mampu menggunakan oksigen dalam proses respirasinya. Dalam trofik makanan di ekosistem laut lepas, kelompok bakteri AAP ini dapat dikatakan sebagai konsumen tingkat pertama setelah produsen. Ya meskipun mampu berfotosintesis kelompok bakteri ini sepenuhnya bersifat heterotrofik dalam hal perolehan senyawa karbon. Mereka tidak dapat mensintesis senyawa organik dari karbon dioksida seperti halnya Cyanobacteria.

Sifat aerobik, kemampuan yang luas dalam menggunakan senyawa organik, serta didukung dengan kemampuan fototrofiknya membuat kelompok bakteri AAP tersebar secara meluas dan juga melimpah pada ekosistem laut lepas, khususnya pada daerah yang terkena sinar matahari (eufotik). Selain itu penelitian terbaru menyatakan bahwa volum sel bakteri AAP adalah dua kali lebih besar dibandingkan sel bakteri pada umumnya. Hal ini berarti sel bakteri AAP dapat dimangsa oleh tingkatan trofik yang lebih besar seperti mikroplankton atau nanoplankton. Berdasarkan fakta ini juga dihipotesiskan bahwa bakteri AAP merupakan penghubung antara jejaring makanan mikrobia (microbial loop) dengan jejaring makanan klasik (classical food web) yang terdiri dari plankton-plankton besar seperti diatom hingga predator puncak seperti paus dan hiu.

3. Bakteri Proteorhodopsin (PR-containing Bacteria)

Bakteri PR merupakan kelompok bakteri yang baru-baru ini ditemukan. Seperti halnya Cyanobacteria dan bakteri AAP, kelompok ini juga dapat menggunakan sinar matahari sebagai sumber energi alternatifnya. Namun demikian, perbedaannya dengan dua kelompok sebelumnya terletak pada jenis senyawa kimia pigmen yang digunakan untuk menangkap radiasi sinar matahari. Cyanobacteria dan bakteri AAP masing-masing menggunakan modifikasi senyawa kimia tetrapyrolle yang disebut klorofil-a dan bakterioklorofil. Kedua pigmen ini juga terletak bersama dengan komponen pigmen penangkap cahaya lain, yakni karotenoid, dalam suatu struktur sel yang disebut sebagai fotosistem. Kelompok bakteri PR memiliki suatu protein yang disebut sebagai rhodopsin yang dapat berubah konformasinya ketika terkena cahaya. Mekanisme ini persis seperti protein rhodopsin yang ada pada mata hewan. Dengan demikian, bakteri PR ini memiliki sistem penghasilan energi (ATP) yang difasilitasi oleh protein rhodopsin yang dapat bekerja menghasilkan ATP apabila terkena cahaya.

Kemampuan menggunakan cahaya sebagai sumber energi membuat bakteri PR memiliki kemampuan hidup seperti bakteri AAP. Penelitian baru-baru ini juga menunjukan terdapatnya bakteri PR secara melimpah bersama dengan bakteri AAP pada perairan laut. Kontribusi bakteri PR terhadap ekosistem perairan laut belum banyak diketahui. Hingga saat ini, bakteri PR ternyata berkontribusi dalam siklus sulfur di zona oksik (zona terdapat oksigen) bersama dengan bakteri AAP, yakni mendegradasi senyawa-senyawa sulfur organik.

Simpulan

Bakteri fotoheterotrofik merupakan kelompok bakteri yang terdapat melimpah dengan distribusi yang luas pada ekosistem permukaan laut lepas. Kelompok bakteri ini juga memiliki beragam kontribusi terhadap ekosistem laut dalam hal siklus biogeokimia, khususnya siklus karbon secara global.

Bacaan Lanjutan

Beja, O. & M. T. Suzuki. 2008. Photoheterotrophic Marine Prokaryotes. In Microbial Ecology of the Oceans 2nd Ed. Wiley-Blackwell Pub.: USA.

Jumat, 23 September 2011

Ekologi Mikrobia Laut, Bab 2 - Pola Struktur Komunitas Bakteri dan Archaea Laut

Setelah pengantar singkat yang tertulis di Bab 1 sebelumnya, kali ini saia akan berbagi materi berikutnya mengenai struktur komunitas prokariot di laut. Kenapa prokariot? Well tidak dapat dipungkiri bahwa lautan di bumi ini didominasi oleh kehidupan prokariot, yakni bakteri dan archaea, baik dalam hal jumlah maupun aktivitas. Namun demikian, dalam bab ini saia akan mencoba memfokuskan dari segi keanekaragaman dan faktor-faktor yang meregulasi struktur komunitas terlebih dahulu. Selamat membaca yak.

Struktur Komunitas
Kita akan mulai dengan sebuah definisi. Struktur komunitas merupakan penggambaran atau karakter suatu komunitas ditinjau dari keanekaragaman spesies dalam suatu ruang lingkup dan kemelimpahan relatif masing-masing terhadap komunitas total. Nah apabila kita terapkan pada bakteri dan archaea berarti kita akan berurusan dengan berapa banyak spesies dan kemelimpahannya masing-masing di laut sebagai ruang lingkupnya. Ketika kita berbicara dengan keanekaragaman, artinya kita juga berbcara dengan klasifikasi. Ekologi makro umumnya menggolongkan atau mengklasifikasi organisme ke dalam kelompok-kelompok fungsional seperti produsen, konsumen, dekomposer, dll. Hal tersebut juga berlaku dalam ekologi mikrobia seperti contohnya kelompok foto-lithoautotrof, khemo-litoautotrof, khemo-organoheterotrof, dll. Namun demikian, terdapat suatu pola bahwa beberapa kelompok fungsional ekologis dari bakteri dan archaea ternyata memiliki sejarah evolusi yang mirip. Hal ini membuat dibuatnya suatu pengelompokan komunitas bakteri dan archaea selain berdasarkan fungsi, juga berdasarkan data evolusioner filogenetik.

Keanekaragaman dan Distribusi
Oke, berbicara mengenai keseluruhan spesies bakteri dan archaea yang terdapat dalam komunitas prokariot laut akan membuat tulisan ini terlalu panjang. Dalam kesempatan ini saia akan coba menyinggung mengenai kelompok filogenetik bakteri dominan di perairan laut. Berbagai macam kelompok filogenetik bakteri yang terdapat di laut meliputi filum Proteobacteria, Bacteroidetes, Cyanobacteria, Actinobacteria, dan kelompok green non-sulfur bacteria (GNSB) yang mungkin meliputi filum Chloroflexi. Keanekaragaman archaea di laut juga cukup luas dan meliputi 2 filum, yakni Crenarcheota dan Euryarchaeota. Beberapa bakteri yang diduga sebagai spesies baru pun banyak ditemukan, namun belum dapat teridentifikasi akibat tidak dapat tumbuh dalam medium kultur.

Setelah keanekaragaman spesies, sekarang mari kita berbicara mengenai distribusi dan kemelimpahan. Data mengenai distribusi dan kemelimpahan akan lebih banyak terkait dengan bakteri akibat masih sedikitnya data penelitian mengenai archaea. Berdasarkan data yang terkumpul, diambil sebuah generalisasi bahwa komunitas bakteri cenderung terdistribusi pada zona permukaan hingga kedalaman sekitar 100 meter. Archaea kemudian mulai cenderung terdistribusi pada zona dibawah 100 meter bahkan hingga dasar lautan. Lanjutan mendetail mengenai distribusi dan kemelimpahan komunitas bakteri yang mencakup beberapa kelompok fungsional besar akan dibahas pada bab-bab berikutnya.

Faktor-faktor yang Meregulasi Struktur Komunitas
Struktur suatu komunitas tentunya dipengaruhi atau merespon pada berbagai macam faktor. Dalam kasus komunitas mikrobia, faktor-faktor tersebut dapat dikatergorikan menjadi bottom-up control, top-down control, sideways control, dan 'kill the winner' hypothesis. Selanjutnya, mari kita bahas satu-per-satu.

1. Bottom-up Control
merupakan respon komunitas terhadap nutrien. Lautan merupakan sebuah ekosistem dengan konsentrasi nutrien yang sangat rendah akibat volume air yang sangat besar. Selain itu terdapat juga beberapa jenis nutrien yang bersifat membatasi pertumbuhan populasi kelompok mikrobia tertentu (limiting nutrient). Pengaruh jenis dan konsentrasi nutrien terhadap komunitas mikrobia laut tentunya akan mengakibatkan kompetisi antar mikrobia, sehingga jelas bahwa faktor ini mengatur pola struktur komunitas.

2. Top-down Control
Siapapun yang pernah belajar ekologi pastinya akan langsung terbayang akan hubungan pemangsa-mangsa (predator-prey relationship) apabila melihat faktor ini. Dalam komunitas mikrobia, predator yang dimaksud umumnya berupa kelompok mikrobia eukariotik yang sering disebut sebagai nanoflagelata heterotrofik (HNF / heterotrophic nanoflagellates). Selain kelompok HNF, predator lain juga dapat berupa protozoa yang lebih besar seperti yang terdapat dalam kategori mikroplankton.

3. Sideways Control
Faktor ini cukup unik bagi komunitas mikrobia, khususnya bakteri. Hal ini disebabkan karena adanya interaksi antar spesies bakteri dan interaksi ini turut mempengaruhi kemelimpahan individu bakteri tersebut dalam populasi. Interaksi ini melibatkan co-metabolisme, sintrofi, hingga quorum-sensing.

4. 'Kill the winner' hypothesis
Walaupun masih diasumsikan sebagai hipotesis, namun data penelitian yang membuktikan kebenaran hipotesis ini semakin banyak. Faktor ini terkait dengan parasit pada komunitas bakteri, yakni virus atau phage. Data penelitian menunjukan bahwa adanya sisipan DNA virus turut meregulasi kemelimpahan individu bakteri dalam populasi yang pada akhirnya akan mempengaruhi struktur komunitas secara keseluruhan. Regulasinya terkait dengan aktivasi siklus litik phage pada saat ketika kemelimpahan individu dari suatu spesies bakteri mencapai nilai tertentu. Seperti hal-nya top-down control, faktor "kill the winner' ini turut meregulasi komunitas bakteri dengan cara menguranginya. Selain itu, pengurangan kemelimpahan suatu populasi bakteri tertentu juga membuka niche yang kemudian dapat dikuasai oleh populasi bakteri lainnya, sehingga keduanya dapat co-exist.

Bacaan Lanjutan
Fuhrman, J. A. & A. Hagstrom. 2008. Bacterial and Archaeal Community Structure and Its Patterns. In Microbial Ecology of the Oceans 2nd Ed. Wiley-Blackwell Pub.: USA.

Sabtu, 17 September 2011

Ekologi Mikrobia Laut, Bab 1 - Sebuah Pengantar

Kali ini saia Chef Victor dengan segala ketidakjelasan dalam tulisannya akan mencoba untuk berbagi sedikit informasi yang telah diperoleh khususnya mengenai Mikrobiologi Laut. Cerita ini merupakan cerita bersambung dalam artikel 'Bukan Tulisan Ilmiah' yang mencakup keanekaragaman mikroorganisme lautan serta perannya dalam ekosistem terbesar di bumi ini. So stay tuned and keep reading :)

Ketika kita berbicara tentang lautan, apa yang dapat kita bayangkan? Well, hal pertama yang terpikir mungkin bahwa lautan merupakan daerah yang terluas di bumi. Luas lautan mencakup sekitar 70% luas permukaan bumi, sehingga tidak mengherankan juga apabila lautan merupakan ekosistem terbesar di bumi. Apabila kita mengkaitkan mikrobia dengan ekosistem laut, kita akan mendapati bahwa mikrobia mampu untuk hidup pada segala jenis habitat di laut. Sebut saja, mulai dari zona pesisir, paparan benua, laut lepas, cerobong panas bawah laut, hingga lautan es di kutub utara dan selatan; mikrobia terdapat di semua tempat itu. Dengan adanya mikrobia sebanyak dan seberagam itu, tentunya akan berkaitan juga dengan pengaruh yang ditimbulkan dari aktivitas-aktivitas mereka terhadap lingkungan sekitar. Nah itulah yang menjadi kajian dari bidang ilmu Ekologi Mikrobia Laut.

Apa itu ekologi mikrobia laut? Berdasarkan definisi dari salah satu pakar di bidang ini, Dr. David L. Kirchman, ekologi mikrobia laut merupakan sub-disiplin ilmu ekologi yang mempelajari mikrobia pada ekosistem laut. Selanjutnya 'mikrobia' disini masih didefinisikan secara klasik, yakni organisme berukuran lebih kecil dari 100 mikrometer (1 milimeter = 1000 mikrometer) yang pada umumnya hanya dapat dilihat menggunakan mikroskop. Dengan demikian kelompok organisme yang disebut mikrobia itu mencakup bakteri, archaea, protista, dan fungi mikroskopik. Namun demikian, fungi didapatkan kurang memberikan kontribusi ekologis di ekosistem laut sehingga kelompok yang satu ini kurang mendapat bahasan. Virus yang bukan merupakan mahluk hidup, juga termasuk dalam kajian ekologi mikrobia laut karena virus memberikan pengaruh besar terkait regulasi kemelimpahan mikrobia dan virus juga termasuk salah satu kelompok mikrobia.

Selain menggolongkan mikrobia secara taksonomis, mikrobia juga digolongkan berdasarkan fungsi/peran nya di ekosistem laut. Pengelompokan berdasarkan peran ini membagi kelompok mikrobia menjadi beberapa kelompok besar, yakni produsen primer, fotoheterotrof, prokariot heterotrofik, grazer, virus, dan mikrobia yang berperan dalam siklus nitrogen. Cukup banyak bukan? Oke, mari kita bahas satu persatu:

1. Produsen primer. Seperti yang telah diketahui dari kuliah ekologi, produsen primer merupakan kelompok mikrobia yang dapat mensintesis senyawa karbon organik dari bahan karbon anorganik seperti karbon dioksida. Kelompok ini sebagian besar meliputi fotoautotrof seperti cyanobacteria dan protista fotosintetik, sedangkan sebagian kecil meliputi kelompok chemolithoautotrof dasar laut dalam yang tidak ada cahaya matahari.

2. Fotoheterotrof. Merupakan kelompok mikrobia yang baru-baru ini ditemukan dan berpotensi memiliki peranan besar dalam siklus karbon laut global. Seperti layaknya kelompok cyanobacteria, kelompok fotoheterotrof ini dapat menggunakan cahaya matahari untuk menghasilkan energi bagi dirinya sendiri namun demikian masih menggantungkan kebutuhan karbon organiknya dari kelompok autotrof. Keunikan aktivitas serta ukuran yang relatif besar dibandingkan dengan bakteri lain pada umumnya memunculkan hipotesis bahwa kelompok bakteri fotoheterotrof ini merupakan penghubung antara jejaring makanan mikrobia (microbial foodweb) dengan jejaring makanan klasik di laut yang berbasis pada plankton besar (classic foodweb).

3. Prokariot Heterotrofik. Ada yang menghasilkan pasti ada yang mengkonsumsi. Ya begitulah makna heterotrofik, yakni kelompok prokariot (bakteri dan archaea) yang menggantungkan kebutuhan karbon dan energi dari produsen primer. Secara proses, kelompok ini mendapatkan sumber karbon dan energi dengan cara menyerap senyawa organik yang terlepas dari sel produsen primer (coba bandingkan prosesnya dengan kelompok grazer).Di dalam piramida makanan mikrobia laut, kelompok ini dapat dipandang sebagai konsumen pertama setelah produsen primer.

4. Grazer. Secara harfia berarti perumput atau yang memakan rumput. Kelompok mikrobia ini juga termasuk heterotrofik namun berbeda dengan kelompok prokariot heterotrofik dalam mendapatkan makanannya. Kelompok grazer merupakan kelompok heterotrof yang mendapatkan sumber karbon dan energinya dari memakan mangsanya. Singkat kata, mereka adalah predator.

5. Virus. Mikrobia yang satu ini telah disepakati sebagai bukan mahluk hidup karena tidak memiliki sel. Kemampuan virus menunjukan ciri hidup terdapat pada asam nukleatnya (DNA / RNA) dan dapat menginfeksi mikrobia sekitar yang cocok dengannya. Peranan virus dalam ekosistem laut mulai dikenal akibat kemampuannya dalam membunuh mikrobia yang terinfeksi olehnya, sehingga virus dikenal sebagai pengendali populasi kelompok mikrobia lain. Jumlahnya yang jauh melebihi bakteri maupun archaea di ekosistem laut juga semakin meningkatkan peranannya di lautan.

6. Mikrobia yang Berperan Dalam Siklus Nitrogen. Senyawa karbon tentunya membutuhkan tambahan atom nitrogen (N) agar dapat membangun enzim yang merupakan mesin kehidupan di bumi ini. Tanpa N, maka tidak akan ada asam nukleat maupun protein dan dengan demikian N itu penting. Kelompok mikrobia yang berperan dalam siklus N terbagi dalam serangkaian proses yang cukup panjang. Namun di pengantar ini hanya akan diceritakan mengenai kelompok mikrobia yang bertanggung jawab dalam proses fiksasi N (diazotrof), mikrobia nitrifikasi (nitrifiers), dan mikrobia denitrifikasi (denitrifiers).

Secara garis besar, keenam kelompok fungsional mikrobia ini merupakan yang berperan besar pada ekosistem laut. Dapat disimpulkan bahwa proses biogeokimia di laut tidak terlepas dari peranan mikrobia yang bergitu besar. Dengan keunikan dan keberagaman aktivitas metabolisme serta kemelimpahannya dalam ekosistem laut yang begitu tinggi, tidak mengherankan apabila mikrobia mendominasi ekosistem laut pada berbagai proses. Lebih lanjut lagi, rincian peranan dan interaksi mereka satu sama lain akan saia jelaskan lagi pada bab-bab berikutnya.

Bacaan Lanjutan

Kirchman, D. L. 2008. Introduction and Overview. In Microbial Ecology of the Oceans 2nd Ed. Wiley-Blackwell Pub.: USA.

Rabu, 14 September 2011

Bagaimana Kita Menyikapi Sebuah Definisi Terhadap Biologi

Hoho...kembali bersama saia Chef Victor dengan segala unek-unek anehnya yang terkadang terkesan setengah gila dan setengah tidak waras. Sepertinya untuk tulisan ini akan saia posting di artikel Bukan Tulisan Ilmiah, tepatnya di blog tercinta saia yang sudah lama tidak terima update-an. Yah apalagi kalau bukan biologystuffs.blogspot.com (promosi gituh). Baiklar, pada tulisan kali ini saia akan mengajak teman-teman pembaca sekalian untuk mendefinisikan arti kata Biologi dan mencoba menelusurinya secara panjang, lebar dan dalam. Dalam tulisan ini saia hanya mencoba menyampaikan sebuah pandangan saja menurut pengetahuan yang tersedia dan saia sama sekali tidak bermaksud untuk menghakimi siapapun. Jadi apabila ada yang merasa isi dalam tulisan ini kurang pas di kaki dan di hati, ya segera dicari nomor ukuran yang pas saja yax. Selamat membaca :)

Oke sekarang kita mulai dengan satu pertanyaan, apa itu Biologi? Yaa Biologi itu terdiri dari kata "Bios" yang berarti "kehidupan" dan "Logos" yang berarti "ilmu". Jadinya secara sederhana kita bisa mendefinisikannya sebagai ilmu yang mempelajari kehidupan. Well, beranjak dari Biologi, ternyata kehidupan tidak sesederhana yang kita bayangkan dan nyatanya memang jauh lebih kompleks. Dengan dmeikian kita mengklasifikasi keanekaragaman karakter kehidupan sehingga dapat kita pelajari secara lebih mendalam. Saia mencoba menyimpulkan berdasarkan pengalaman saia bahwa sebagai satu kesatuan, biologi merupakan komponen dari 3 sub-ilmu, yakni Sistematika, Ekologi, dan Biologi Fungsional. Integrasi dari ketiga inilah yang membuat biologi secara keseluruhan.

Sistematika atau yang sering juga disebut sebagai Sistematika & Evolusi merupakan cabang biologi yang mempelajari keanekaragaman organisme serta hubungan antar organisme baik secara kemiripan maupun secara kekerabatan. Proses evolusi yang terjadi seiring berjalannya waktu menjadi landasan dalam hubungan kekerabatan antar organisme tersebut. Ekologi merupakan cabang biologi yang mempelajari interaksi antar sesama organisme maupun antar organisme dengan lingkungannya yang pada akhirnya menentukan distribusi dan kemelimpahannya. Kemudian selanjutnya adalah biologi fungsional yang mempelajar struktur, fungsi, serta perilaku organisme. Nah berdasarkan definisi sederhana yang saia coba buat-buat ini, pola apa yang dapat kita lihat disini? Yup, ketiga cabang ini memiliki hirarki kajiannya sendiri-sendiri yang kemudian bergabung menjadi satu kesatuan yang utuh, tepat sama seperti ketiga istilahnya sendiri yang menyusun biologi.

Kita dapat melihat bahwa pada hirarki terendah, yakni tingkat individu dari suatu spesies, menjadi ruang lingkup kajian biologi fungsional. Kajiannya mempelajari seperti morfologi, anatomi, fisiologi, etologi dari suatu organisme pada level individual. Sedangkan pada hirarki kedua, yakni tingkat populasi, menjadi ruang lingkup kajian sistematika dan evolusi. Kajian dari cabang biologi ini khususnya mempelajari spesies yang pastinya sudah kita ketahui bersama memiliki struktur berupa sebuah populasi. Kemudian pada level komunitas dan ekosistem, tidak dapat diragukan lagi itulah kajian dari bidang ekologi.

Sebagai mahasiswa bidang biologi, kita tentu akan diluluskan sebagai sarjana biologi. Dengan demikian, kita tentunya diharapkan untuk dapat mandiri serta bertanggung jawab terhadap gelar yang kita dapatkan itu. Apabila kita asosiasikan dengan penjabaran saia diatas, sarjana biologi artinya seseorang yang telah memahami biologi baik pada cakupan fungsional, sistematika, dan ekologi. Lebih lanjut lagi, artinya kita telah memahami sekelompok sub-sub disiplin ilmu biologi pada tahapan individual, populasi, komunitas, hingga ekosistem. Hey ini merupakan satu kesatuan dan kita jangan memisahkan cabang ilmu tersebut dengan kedok 'peminatan atau spesialisasi pake telor'. Pada tulisan ini saia ingin menaruh harapan agar teman-teman yang sedang menempuh perjalanan ke-biologi-an dapat dan segera menyadari esensi dari keutuhan suatu bidang ilmu yang dinamakan Biologi.

Saia rasa tidak sedikit kasus atas nama ilmu biologi yang ternyata lebih berpotensi merusak ketimbang memperbaiki dan menjaga kesinambungan kehidupan di bumi ini. Saia hanya bisa berkesimpulan bahwa itu kemungkinan diakibatkan oleh penguasaan biologi yang tidak utuh menyeluruh sehingga asumsi yang dibangun tidak mencakup sebanyak mungkin aspek. Sebagai penutup, marilah kita bersama-sama mencoba untuk menguasai biologi secara menyeluruh dari B hingga I agar di masa depan kita dapat membuktikan diri kita sebagai pejuang di bidang biologi.

Salam Saia
Victor

Senin, 14 Maret 2011

Penyusupan Makhluk Asing Melalui Air Ballast Kapal

Hiyaa....setelah inaktif dari menulis artikel bukan artikel ilmiah untuk waktu yang sangat lama, akhirnya saia bisa menelorkan satu artikel baru. Kali ini judulnya terlihat 'sangat menarik' karena memang demikian halnya. Tapi kalau baca judul artikel ini, jangan dibayangkan 'makhluk asing' yang saia maksud itu seperti alien atau monster di film-film sains-fiksi. 'Makhluk asing' yang saia maksud sebenarnya sangat umum ditemui di sekitar kita, bahkan saking umumnya orang sampai tidak peduli. Tapi di tempat lain, makhluk-makhluk ini membuat banyak sekali masalah.

Nah...saia akan bahas satu persatu beberapa hal yang berkaitan dengan judul tulisan saia kali ini.

Yang pertama tentu saja tentang apa 'makhluk asing' yang saia maksud. Nah...'makhluk asing' yang saia maksud adalah organisme akuatik (bisa air tawar, bisa air laut) yang merupakan organisme alami di satu daerah, tapi muncul (atau terbawa) ke daerah lain. Dimana di daerah tersebut organisme tersebut tidak pernah ditemukan (atau muncul) secara alami di alam. Beberapa contoh yang sangat populer (dan membuat banyak masalah) adalah ubur-ubur, kerang, dan fitoplankton (untuk ubur2, lihat artikel Nomura). Organisme ini bisa menempuh jarak ratusan hingga ribuan kilometer jauhnya dari tempat hidup alaminya, fenomena ini dalam ilmu ekologi disebut Jump Dispersal. Eits....tapi ini bukan-sulap-bukan-sihir bukan pula tipuan en bukan pula organisme itu yang kelewat sakti, sampai bisa lompat sejauh ratusan kilometer, tapi ini gara-gara ulah manusia yang lalu-lalang di laut dengan menggunakan kapal.



Ya....kapal. Itu sumber masalah yang menyebabkan terjadinya jump dispersal dan penyusupan makhluk asing ke daerah yang bukan habitat alaminya.

Sistem penyeimbang kapal (ballast) yang menjadi penyebab utama munculnya jump dispersal
Seperti yang mungkin sudah kita ketahui, dalam kapal ada sistem penyeimbang yang disebut dengan ballast (di organisme akuatik juga punya loh, tapi ga saia bahas disini). Saat kapal memuat atau membongkar muatan, kapal harus dilengkapi sistem penyeimbang yang membuat kapal tersebut tidak tenggelam atau timbul terlalu tinggi (klo ga kapal bisa terguling). Jaman dulu ballast kapal diisi dengan pasir atau batu, tapi sekarang digunakan air (bisa tawar, bisa laut) sebagai penyeimbang kapal.

NAH...masalahnya.....ketika air ballast disedot dari pelabuhan asal, BUANYAK organisme yang juga ikut tersedot (termasuk ubur-ubur, larva kerang, dan fitoplankton). Meski banyak juga yang mati di dalam ruang ballast kapal, tapi banyak juga yang bandel dan bisa bertahan hidup. Nah....ketika kapal tiba di pelabuhan tujuan, air ballast ini harus dibuang. Pada saat itulah 'makhluk-makhluk asing' tersebut sampai di tempat baru.

Sialnya....di tempat baru tersebut seringkali TIDAK ADA organisme yang mau atau bisa makan 'makhluk-makhluk asing' tersebut. Ditambah dengan banyaknya nutrien (makanan) di tempat baru dan tidak ada kompetitor (pesaing), jadilah mereka berkembang biak dan berpesta-pora. Terus ditambah lagi mereka umumnya punya siklus reproduksi yang yang sangat singkat. Bisa dalam 1 malam ada puluhan bahkan ratusan individu 'makhluk asing ' yang menghasilkan jutaan bahkan miliaran telur atau larva, gilanya...larva tersebut bisa jadi dewasa dalam waktu kurang dari 1 minggu. Ah.....sialnya lagi 'makhluk-makhluk asing' itu juga membunuh, memakan, menekan, mendesak, dan atau meracuni organisme lokal di tempat barunya. Sehingga keberadaannya bisa menghancurkan keseimbangan ekosistem di tempat barunya tersebut. Nah, kalau sudah begini 'makhluk-makhluk asing' tersebut lalu dijuluki sebagai organisme invasif.

Ubur-ubur sisir (comb jellyfish), makhluk mungil yang menyengsarakan nelayan di Danau Laut Kaspia


Beberapa contoh kasus dari fenomena jump dispersal 'makhluk asing' melalui air ballast, serta invasi ke ekosistem baru adalah kasus yang muncul di Danau Laut Kaspia. Di danau terbesar di dunia itu muncul serbuan ubur-ubur sisir (comb jellyfish) yang memakan larva ikan Kilka, ikan yang merupakan sumber mata pencaharian nelayan setempat.
                                                
Kerang emas (golden mussel), bivalvia biang sejuta masalah

Serbuan kerang emas di filter pendingin sebuah pembangkit listrik

Kemudian di Amerika Selatan muncul juga serbuan kerang emas (golden mussel (atas)) yang menyebar dan berkembang biak dengan kecepatan yang tidak masuk akal (laju penyebaran mencapai 240 km/tahun). Sehingga menghancurkan perikanan air tawar, merusak sistem pengolahan air, mengancam ketahanan bendungan, dan merusak sistem pembangkit listrik (bawah).

Red Tide yang diakibatkan oleh ledakan populasi fitoplankton yang sebagian besar SANGAT beracun

Tidak kalah seru, di berbagai perairan di dunia (misal di pantai Florida), muncul pula blooming spesies fitoplankton (mikroalgae) berwarna merah yang akhirnya membuat lautan berubah warna menjadi merah. Fenomena ini lazim disebut juga Red Tide (walau kadang warnanya ga merah, bisa juga hijau atau kuning-kecoklatan). Masalahnya fitoplankton ini sangat beracun dan bisa membunuh ikan, udang, kepiting, burung, mamalia laut (ikan paus juga bisa mati loh), dan tentu saja manusia. Bila kasus-kasus seperti itu tidak segera ditangani, dampaknya bisa semakin luas, parah, dan permanen. Dan semua kasus tersebut terjadi diakibatkan oleh manajemen air ballast kapal yang tidak memperhatikan dampaknya ke lingkungan.

Lalu...bagaimana cara menanganinya?

Ada beberapa cara sebenarnya, baik secara hipotesis maupun yang sudah dijalankan secara nyata di lapangan. Cara pertama tentu adalah mencegah 'makhluk-makhluk asing' tersebut menyusup ke dalam ballast kapal, atau kalau sudah menyusup, maka yang harus dilakukan adalah mencegah mereka masuk ke tempat baru. Beberapa cara yang bisa dilakukan misalnya Ballast Water Exchange, yaitu dengan mengambil air ballast di pelabuhan asal lalu menukarnya di tengah laut dengan air laut baru. Kemudian air ballast ini ditukar lagi dengan air laut di pelabuhan tujuan. Beberapa perusahaan kapal juga menggunakan Ozone atau sinar UV untuk mensterilkan air ballast di kapal mereka. Kemudian di kapal-kapal tanker minyak sering digunakan Flow Trough System, yaitu sistem yang memungkinkan air ballast terus bersirkulasi dari laut ke kapal, kemudian keluar kapal lagi, sehingga tidak ada organisme asing yang bisa menyusup ke dalam air ballast kapal. Kemudian cara kedua adalah biomanipulasi bila 'makhluk-makhluk asing' tersebut berhasil mencapai, dan sudah berkembang-biak-pora di tempat barunya. Biomanipulasi ini pada dasarnya adalah memasukkan organisme pemangsa 'makhluk asing' tersebut ke tempatnya menginvasi. Cara ini cukup efektif tapi harus dilakukan dengan SANGAT HATI-HATI, karena organisme pemangsa 'makhluk asing' ini bisa jadi berubah jadi 'makhluk asing' juga yang dapat merusak ekosistem.

Nah....setelah membaca artikel ini saia harap kalian mulai menyadari bahaya yang timbul dari 'makhluk-makhluk asing' tersebut. Harap ingat, contoh-contoh tersebut hanya SEDIKIT dari BUANYAK kasus yang sudah muncul di seluruh belahan dunia. Masih banyak kasus lain yang sudah terjadi dan sampai sekarang belum bisa diatasi, serta terus menimbulkan banyak masalah.

Jadi...bagi kalian-kalian yang baca artikel ini. Silahkan direnungkan dan kalau kebetulan ilmunya sesuai, silahkan dikembangkan, dikaji, dan diteliti (ehehe....termasuk untuk saia ^___^). Siapa tahu suatu saat lagi kalianlah yang menemukan solusi terbaik untuk menyelesaikan masalah 'penyusupan makhluk asing melaui air ballast kapal ini'.

Akhir kata saia ucapkan terima kasih dan Keep on Creative!

Arief Rachman a.k.a red_rackham 2011

P.S. Silahkan berkomentar dan memprotes kalau ada yang kalian anggap tidak benar, asal jangan dilempar BRP, Bata, atau Hate This. Kalau benar dan menurut kalian menarik, boleh dikasih GRP, Cendol, Ijo-ijo, Thanks, atau Like This \(^o^)/