Selasa, 13 Oktober 2015

Review: The Alchemy of Air


Review mengenai buku ini sebenarnya agak telat karena buku tersebut sudah selesai saia baca sekitar 5 bulan yang lalu. Buku ini ditulis oleh Thomas Hager dan diterbitkan pada 2009, jadi boleh dibilang sudah cukup lama. Saia menjumpai buku ini secara kebetulan di toko buku Gramedia dan memutuskan untuk membeli setelah membaca sinopsisnya. Buku yang saia beli merupakan versi terjemahan yang diterbitkan oleh Penerbit Gramedia Pustaka Utama pada 2014. Buku versi terjemahan yang saia beli memiliki dimensi 24 x 15 cm dengan tebal xviii + 354 halaman. Isi buku The Alchemy of Air ini hanya terdiri atas: Pendahuluan; bagian 1 – Kiamat Bumi; bagian 2 – Batu Ajaib; bagian 3 – Syn; epilog; sumber catatan; daftar pustaka; dan ucapan terima kasih. Bagian 1 sendiri terdiri atas 5 bab, bagian 2 terdiri atas 7 bab, dan bagian 3 terdiri atas 9 bab.
Cerita dalam buku ini mengisahkan dua orang yang boleh dibilang menjadi sebab mengapa umat manusia di bumi ini dapat tumbuh mencapai 7 milyar orang. Namun demikian, sejarah menunjukkan bahwa kedua ilmuwan ini tidaklah sepopuler ilmuwan lainnya seperti Albert Einstein, James Watson, Francis Crick, dan lainnya yang sering menjadi ikon dunia sains. Dua ilmuwan yang dikisahkan dalam buku ini bernama Fritz Haber dan Carl Bosch. Mereka berdua merupakan penemu sekaligus pengembang teknologi pengikat nitrogen melalui proses kimia yang berhasil memupuk dunia dengan pupuk nitrogen sintetisnya. Ilmuwan lain yang kontribusinya juga tidak kalah penting dalam teknologi ini adalah Alwin Mittasch yang menjadi pionir dalam bidang ilmu kimia katalisis dan Robert Le Rossignol yang membantu Fritz Haber dalam mengembangan proses Haber. Selain itu, dicceritakan juga tentang Walter Nernst dan Wilhelm Ostwald yang menjadi rival Haber dalam penemuan fiksasi nitrogen ini.
Bagian satu mmengisahkan tentang ramalan yang dibuat pada tahun 1898 oleh Sir William Crookes yang dalam pidatonya menyatakan bahwa penduduk di bumi sedang di ambang kehancuran. Penyebabnya tidak lain adalah jumlah penduduk yang terus bertambah namun dengan jumlah pasokan pangan yang terbatas. Dengan demikian, bencana kelaparan semakin menghantui seiring dengan berjalannya waktu. Penyebabnya merupakan hal yang lumrah, yakni kecepatan produksi pangan oleh para petani yang terhitung lamban jika dibandingkan dengan masa sekarang. Berbagai cara dilakukan untuk dapat mempercepat penumbuhan tanaman pangan dan juga masa panennya, mulai dari pergiliran tanaman hingga pemupukan dengan kotoran ternak. Namun semua itu belum cukup. Disini mereka mengetahui bahwa agar tanaman bisa tumbuh dengan cepat, mereka butuh pasokan senyawa nitrogen yang banyak di dalam tanah. Perburuan besar-besaran pun dimulai untuk mencari sumber senyawa nitrogen tersebut. Selagi perang memperebutkan pasokan nitrogen untuk memupuki negara masing-masing berlangsung, ada seorang ilmuwan di Jerman yang sedang membuat mesin yang konon dapat membuat udara menjadi roti. Dialah Fritz Haber.
Bagian kedua berfokus pada cerita bagaimana Fritz Haber, dibantu oleh Robert Le Rossignol, menemukan reaksi kimia sintesis amonia dari nitrogen dan hidrogen. Kedua unsur awalan tersebut berwujud gas dan reaksinya untuk menghasilkan amonia harus dilakukan pada suhu dan tekanan tinggi menggunakan katalis logam. Setelah berhasil, keduanya mengirimkan proposal kepada sebuah pabrik kimia besar bernama BASF (Badische Anilin- und Soda-Fabrik) untuk mengembangkan proses sintesisnya pada skala industri. Disini Fritz Haber bertemu dengan seorang ahli kimia lainnya yang bernama Carl Bosch. Keduanya menyempurnakan proses Haber dan mengembangkannya hingga ke skala industri. Keberhasilannya pun tidak main-main hingga pada saat itu BASF menunjuk Carl Bosch untuk memimpin proyek pembangunan pabrik sintesis amonia pertama di Oppau. Tidak semuanya pada bagian dua ini menceritakan tentang hal-hal yang bersifat teknis. Sisi kehidupan pribadi mengenai Fritz Haber dan Carl Bosh juga diceritakan dan diperlihatkan bagaimana keduanya berseberangan dalam prinsip hidup masing-masing. Setelah sukses dengan pasokam amonia sintetisnya, dunia seakan mendapat harapan baru karena masalah bencana kelaparan sebagaimana yang diramalkan oleh Sir William Crookes telah terpecahkan. Namun demikian, di Jerman sana ternyata amonia yang dihasilkan tidak hanya digunakan untuk membuat pupuk. Mereaksikan amonia dengan oksigen akan menghasilkan senyawa  baru bernama asam nitrat yang merupakan sumber dari bahan peledak. Pada saat itu, teknologi sintesis amonia Haber-Bosch juga digunakan oleh jerman untuk mebuat bahan peledak dalam skala besar dan kemudian memicu perang dunia pertama.
Bagian ketiga menyoroti tentang keberlanjutan politik dan perang antara Jerman dengan dunia internasional. Pada bagian ini dikisahkan juga kemunculan Adolf Hitler yang kemudian menjadi pemimpin Jerman di masa krisisnya. Menggunakan pasokan amonia dan nitrat yang diperoleh dari pabrik barunya di Leuna (sebuah pabrik sintesis amonia yang sebesar kota), Jerman di bawah pimpinan Hitler tetap gencar berperang dengan negara-negara sekutu selama perang dunia kedua. Selama waktu ini diceritakan bahwa keduanya sangat terpukul dengan kenyataan bahwa penemuan mereka selain digunakan untuk memecahkan masalah umat manusia juga digunakan untuk menciptakan krisis antar umat manusia. Di akhir cerita, Fritz Haber meninggal pada Januari 1934 dan carl Bosch pada April 1940.

Victor.

Tidak ada komentar: